kelompok upacara panjang jimat yang keluar dari kaputren

  • kelompok lilin
  • kelompok upacara :
    * manggaran
    * nagan
    * jantungan
  • kelompok pembawa :
    * air mawar
    * pasatan (selawat)
    * kembang goyang
  • kelompok pembawa :
    * serbad
    * guci
    * botol-botol
    * gelas kosong
  • kelompok pembawa :
    * nasi uduk
    * tumpeng jeneng
    * nasi putih
  • kelompok meron keluar dari pintu barat bangsal pringgandani
  • kelompok dongdang keluar dari pintu buk sebelah barat keraton

kelompok panjang jimat

acara panjang jimat malam jum'at kemaren rame banget, mungkin pas hari libur dan besoknya masih libur jadi dorongan untuk mereka datang ke acara ini. sayangnya saya kemaren nggak bisa maksimal ngambil gambar, soalnya repot banget ngurus wartawan yang nggak mau ngurus id card liputan tapi tetep pengen ngeliput ke dalam bangsal prabayaksa. tapi tenang tunggu waktunya kita upload gambar-gambar yang sempet diambil.upacara panjang jimat adalah acara puncak dari peringatan maulid nabi di kraton cirebon khususnya kraton kasepuhan, dalam upacara ini dibagi beberapa kelompok panjang jimat :

kelompok I :
kelompok awal ini terdiri dari : payung keropak,kepel tunggul manik,damar kurung dan obor. siap di depan kraton (bangsal prabayaksa) akan menyambut keluarnya kelompok II. kelompok ini juga menggambarkana kesiapsiagaan ki abdul mutholib dalam menyambut kelahiran cucunya, yang kelak akan menjadi Nabi besar yang peristiwanya terjadi pada malam hari, mencari paraji (bidan untuk menolong proses kelahiran) dengan membawa obor sebagai penerang.

kelompok II :
kelompok ini membawa beberapa perangkat upacara :manggaran,nagan dan jantungan merupakan lambang kebesaran dan keagungan. air mawar dan pasatan (salawat/sodakoh) yang menggambarkan bahwa kealhiran bayi didahului keluarnya air ketuban, dan kelahiran ini disyukuri dengan sodakoh.

kelompok III :
pangeran raja adipati (yang mewakili sultan) diiringi oleh sesepuh dan dipayungi dengan payung agung kesultanan kasepuhan cirebon. menggambarkan bayi yang baru dilahirkan ini dikemudian hari akan menjadi pemimpin umat (Nabi).

kelompok IV :
kyai penghulu keraton,kembang goyang dan boreh diiringi tujuh buah panjang jimat dan dipayungi. merupakan penggambaran dari hari yang jumlahnya tujuh, salah satunya adalah hari senin, hari lahirnya Nabi Muhammad SAW.2 baki kembang goyang menggambarkan ari-ari sebagai pengiring kelahiran.2 baki boreh adalah obat bagi ibu yang baru melahirkan untuk mejaga kesehatannya.

kelompok V :
sepasang kong (guci) yang berisi serbad (minuman segar) yang menggambarkan bahwa proses kelahiran telah selesai.

kelompok VI :
4 buah baki membawa botol-botol yang berisi serbad dan tempat minum, menggambarkan bahwa manusia terdiri dari empat unsur yaitu : tanah,air,api dan angin.

kelompok VII :
6 wadah nasi uduk, tumpeng jeneng dan nasi putih, menggambarkan bahwa setiap bayi yang lahir perlu diberi nama yang baik dengan harapan kelak akan menjadi orang yang baik pula.

kelompok VIII :
4 buah meron yang masuk dari pintu sebelah barat bangsal priggandani.meron ini berisi bermacam-macam makanan untuk suguhan para peserta asrakalan di langgar agung. disusul dengan 4 buah dongdang yang keluar dari pintu buk sebelah barat keraton yang nantinya akan menyambung dengan iring-iringan di depan keraton. dondang ini membawa bermacam-macam lauk-pauk yang akan diberikan kepada peserta asrakalan.

kelompok IX :
iringan sentana wargi yang menggambarkan bahwa kelahiran bayi ini disambut gembira oleh kaum kerabatnya.

prosesi terakhir dari upacara ini adalah asrakalan di langgar agung dengan membaca kitab barjanji dan shalawatan, setelah selesai seluruh perangkat upacara kembali ke keraton untuk dipergunakan pada maulid tahun depan.

Tradisi MULUDAN

Malam kemarin hujan terus-menerus sampai siang, udara Cirebon yang biasanya panas terasa cukup dingin.

Kasihan juga sih sama pedagang-pedagang yang lagi ngebangun tenda-tenda warung untuk tempat mereka berjualan di sekitar alun-alun Keraton Kasepuhan. Setiap tahun mereka sudah hampir dipastikan membuka warung tenda disana.

Tradisi muludan merupakan acara turun-temurun yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat cirebon dan sekitarnya. Muludan sendiri berasal dari kati mulud / maulid, yang merupakan salah satu nama bulan dalam perhitungan jawa, dalam kalender arab disebut juga rabiul awal. Bulan ini merupakan bulan yang cukup keramat bagi umat Islam khususnya, karena pada bulan ini Nabi Muhammad SAW lahir. Sehingga tidak mengherankan jika cirebon yang merupakan eks salah satu kerajaan Islam, mempunyai cara tersendiri dalam menyambut datangnya hari kelahiran Beliau.

Ajang pasar dadakan muludan juga merupakan wahana rekreasi murah-meriah bagi warga cirebon dan sekitarnya. Banyak diantara pendatang yang merasa belum menjadi warga cirebon, jika belum pernah jalan-jalan di arena muludan.

Banyak sekali cerita-cerita mistis dan kepercayaaan orang pada tradisi ini. Ada yang berniat 'ngalap berkah' juga tidak sedikit yang bermaksud 'buang sial'. Jangan heran jika kita melihat para pedagang begitu ngotot ingin membuka stand di arena ini, walaupun tidak sedikit diantara mereka yang nombok, namun hal itu tidak menjadikan pengahalang bagi mereka untuk selalu membuka stand tiap tahunnya. Tidak sedikit diantaranya yang mengakatakan biarpun rugi diarena muludan di Alun-Alun Keraton Kasepuhan, tapi mereka bisa mendapatkan keuntungan yang lumayan besar di tempat lain setelah acara tersebut selesai.

Benar atau tidak? percaya atau tidak? itu terserah Anda. Yang jelas ALLAH SWT pasti akan memberikan rejeki kepada semua orang, tinggal bagaimana orang itu bersyukur atas rejeki tersebut.